Upaya Universitas Hasanuddin (UNHAS) dalam memperkuat sistem Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Keamanan Kampus (K3K) terus dilakukan melalui pembelajaran lintas institusi. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan benchmarking ke Unit Pelaksana Teknis Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (UPT K3L) Institut Teknologi Bandung (ITB), yang dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi dengan tata kelola K3 kampus yang matang dan terintegrasi.
Kegiatan benchmarking ini menjadi ruang berbagi praktik baik terkait pengelolaan risiko keselamatan di lingkungan pendidikan tinggi, mulai dari kebijakan, sistem organisasi, hingga implementasi teknis di lapangan. Rombongan UNHAS yang terdiri dari pimpinan universitas, pengelola K3, pejabat struktural, serta Duta K3 mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan fokus pada penguatan budaya keselamatan sebagai bagian dari sistem manajemen universitas.
Read more: Benchmarking K3 Di UPT K3L Institut Teknologi BandungSejak awal kegiatan, aspek keselamatan telah menjadi perhatian utama. Seluruh peserta mengikuti safety induction gedung di Conference Hall B Gedung CRCS ITB sebagai bentuk penerapan prinsip K3 yang konsisten, sekaligus memberikan gambaran nyata mengenai standar keselamatan yang diterapkan di lingkungan kampus ITB.
Dalam sesi dialog kelembagaan, ITB menegaskan pentingnya kolaborasi antarperguruan tinggi dalam membangun budaya K3 yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga tertanam dalam perilaku sehari-hari sivitas akademika. Hal ini disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya ITB, Prof. Dr. Dea Indriani Astuti, S.Si., yang menekankan bahwa keselamatan kampus merupakan tanggung jawab bersama dan membutuhkan dukungan kebijakan yang kuat.
Dari sisi UNHAS, komitmen penguatan K3K ditegaskan oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia, Alumni, dan Sistem Informasi, Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum. Beliau menyampaikan bahwa benchmarking ini menjadi bagian dari proses pembelajaran institusional UNHAS dalam menyempurnakan sistem K3K, baik dari aspek tata kelola, sumber daya manusia, maupun implementasi di lapangan.

Pembahasan teknis menjadi bagian penting dalam kegiatan ini melalui pemaparan yang disampaikan oleh Kepala UPT K3L ITB, Mugi Sugiarto, S.Si., M.A.B. Materi difokuskan pada gambaran menyeluruh sistem K3 ITB, meliputi dasar kebijakan, struktur organisasi K3G, program kerja, hingga layanan yang mendukung terciptanya kampus yang aman, sehat, dan berkelanjutan. Berbagai praktik pengelolaan risiko dipaparkan, seperti pengaturan akses dan parkir kampus, penetapan titik kumpul darurat, inspeksi rutin pohon dan instalasi listrik, manajemen keamanan, serta pelaksanaan simulasi keadaan darurat (safety drill).
Diskusi yang berlangsung secara interaktif membuka ruang pertukaran gagasan mengenai tantangan pengelolaan K3 di perguruan tinggi, termasuk pengawasan vendor konstruksi, keterlibatan jasa pengamanan, penerapan prinsip zero accident, hingga mekanisme inspeksi K3 pada tenant dan fasilitas kampus. Topik-topik ini menjadi referensi penting bagi UNHAS dalam mengembangkan kebijakan dan prosedur K3K yang berbasis risiko.
Untuk melengkapi pemahaman konseptual, kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke fasilitas kampus ITB, khususnya laboratorium yang memiliki tingkat risiko tinggi. Peserta memperoleh penjelasan mengenai penerapan standar keselamatan laboratorium di Laboratorium Instruksional dan Laboratorium Pilot Program Studi Teknik Kimia, yang diawali dengan safety induction laboratorium oleh Anggit Raksajati, S.T., Ph.D. Kegiatan ini memberikan gambaran nyata tentang pengendalian bahaya, penataan area kerja, serta disiplin keselamatan di lingkungan laboratorium pendidikan.
Rangkaian benchmarking ditutup dengan peninjauan kawasan Kampus Ganesha ITB dan interaksi informal yang mempererat hubungan antarinstitusi. Suasana santai di area Boulevard, dengan iringan musik sore khas ITB, menjadi penutup kegiatan yang merefleksikan keseimbangan antara keselamatan, kenyamanan, dan budaya kampus.
Melalui kegiatan ini, UNHAS diharapkan dapat mengadaptasi berbagai praktik terbaik yang relevan untuk diterapkan di lingkungan kampus, sekaligus memperkuat peran K3K sebagai bagian integral dari tata kelola universitas. Benchmarking ini menjadi langkah strategis dalam mewujudkan lingkungan kampus UNHAS yang aman, sehat, dan mendukung keberlanjutan aktivitas tridarma perguruan tinggi.